Melihat kawan dekatmu menikah rupanya membawa perasaan yang cukup kompleks. Pernikahan Gandul adalah momen pertama yang membuatku sadar akan perasaan itu. Gembira, sedih, dan haru. Sebenarnya, tentu ‘sedih’ adalah frasa yang tidak tepat dirasakan ketika mendapati kabar baik. Barangkali itu adalah wujud lain dari kecemasanku akan kehilangan. Tapi lebih dari itu, aku sungguh turut gembira dan terharu. Melihat bagaimana ia patah dan sembuh secara produktif (alias bola-bali😭) sampai akhirnya di titik sekarang, rasanya begitu lega. Di kepalaku, ia kawan paling expert soal asmara. Pengalamannya luar biasa di bidang itu—toh tidak harus selalu mujur untuk dibilang expert , kekacauanmu pun dihitung pengalaman😋 Meski di depannya aku sering bilang kelakuannya bodoh, ada bagian lain dalam diriku yang memberinya tepuk tangan untuk semua keberanian dan effort nya. Aku jadi punya prinsip, soal cinta, kita harus all in !! Kalaupun apes, setidaknya kita bisa menangis dengan perasaan ‘telah memberi s...
Dibilang very nice sama mbak bosor. Diucapin selamat bulan lahir sama pak kaji, diingetin isi baterai dan hati-hati sama Barci. Motorku diisekke angin, dicek remnya sama Nopi. Dibaleni dari Babarsari ke UPN karna semelang aku ra isa nyebrang. Difotoin candid banyaaakkk sekali sama mbamel karna katanya, kasian aku nggak punya foto. Dibilangin masadi buat bandel-bandelin perasaan biar bertahan. Oh, hari-hari yang manis, dan hangat… Rasa-rasanya, kerap kali aku bilang nggak punya temen tiap bergurau. Padahal kalau menengok ke belakang, momen demi momen, kayaknya aku ni hidup dari teman-temanku. Jahat sekali kalau aku selalu bilang begitu, saat satu-satunya yang bisa aku kasih kembali ialah pengakuan bahwa aku hidup dari mereka. Huhu, sayang banget sama teman-temanku. Semoga mereka semua disayang tuhan dan dikasih banyak yang baik-baik 🥹🍀
Buatku, rasanya selalu gloomy tiap datang ke kota lain. Melihat orang-orang berjalan, melihat rumah-rumah, pohon-pohon, apalagi mendengar adzan dikumandangkan, menyadari semua hal sedang dan akan terus bergerak, jauh dari tempat asalmu… apa ya? Aku sungguh nggak ngerti gimana cara menjelaskan perasaan ini dengan tepat. Surabaya layaknya kota yang menawarkan banyak hal. Itu yang ada di kepalaku saat melihat parade hutan beton sepanjang perjalanan dari stasiun. Jalanan lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan berbaris, dan hunian vertikal; lanskap yang cukup memukau mataku sebab di Jogja, bangunan paling jangkung pun tingginya tak mencapai 100 meter—dengan titik lampu merah sebanyak quotes JokPin soal rindu dan angkringan yang beredar di media sosial. Hmm…seberapa leluasa ekonomi menggeliat di sini? Sebenarnya aku pikir di manapun, kelas pekerja akan punya tekanan dan bebannya sendiri dalam bertahan. Tetapi Surabaya semacam punya wajah lain. Ia punya daya hidup, tida...