Malam Jatuh di Surabaya

Buatku, rasanya selalu gloomy tiap datang ke kota lain. Melihat orang-orang berjalan, melihat rumah-rumah, pohon-pohon, apalagi mendengar adzan dikumandangkan, menyadari semua hal sedang dan akan terus bergerak, jauh dari tempat asalmu… apa ya? Aku sungguh nggak ngerti gimana cara menjelaskan perasaan ini dengan tepat.


Surabaya layaknya kota yang menawarkan banyak hal. Itu yang ada di kepalaku saat melihat parade hutan beton sepanjang perjalanan dari stasiun. Jalanan lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan berbaris, dan hunian vertikal; lanskap yang cukup memukau mataku sebab di Jogja, bangunan paling jangkung pun tingginya tak mencapai 100 meter—dengan titik lampu merah sebanyak quotes JokPin soal rindu dan angkringan yang beredar di media sosial.

Hmm…seberapa leluasa ekonomi menggeliat di sini?

Sebenarnya aku pikir di manapun, kelas pekerja akan punya tekanan dan bebannya sendiri dalam bertahan. Tetapi Surabaya semacam punya wajah lain. Ia punya daya hidup, tidak membuai seperti Jogja, pun tak segarang Jakarta. Jelas ini penilaian sekelebat karena aku cuma punya waktu dua hari di sini.

Meski aku terbilang juara satu dalam hal memutus tali silaturahmi, kupikir tidak untuk kali ini. Hari sebelumnya aku menghubungi Togok. Aku minta diajak ke tempat ikonik dari kota ini, sebagaimana Filkop, atau Olive Chicken yang mustahil ditemui di kota selain Jogja.

Yang tidak kubayangkan, ia membawaku ke Madura.

Yo iki ki Surabaya banget. Awakmu lho gak akan eruh Suramadu nek gak ndek kene” ujarnya.

Aku kaget logat Jogjanya hilang, tapi lebih kaget dengan lompatan berpikirnya. Kupikir, dengan nalar segenius itu, harusnya ia berhenti wira-wiri nggolekke duit start up dan mulai membangun karir di Washington, melu NASA.

Suramadu tampak cantik. Konon, beton dan besi yang membentang hampir 6 kilo meter ini dibangun oleh 3.500 pekerja—barangkali jauh lebih banyak dari yang direkrut Bandung Bondowoso, meski tetap butuh dua periode kepresidenan untuk selesai. Melihatnya dari balik kaca helm saat gerimis, dengan pantulan lampu bernuansa hangat memunculkan efek layaknya film Hongkong era 90-an. Kami menyusuri selat Madura itu dengan Vespa yang dibawa Togok dari Jogja. Awalnya, ia bilang ibunya keras menentang, tapi Malin Kundang modern satu ini punya kepala yang lebih keras.

“Lapo aku mbayar larang-larang gae ngirem motor, mending tak tumpaki lho karuan aku gak usah tuku tiket…” 😂

Sampai di tepi Bangkalan, kami berhenti dan nggak ngapa-ngapain. Beneran langsung putar balik ke Surabaya, dengan tujuan cari tempat ngopi. Siapapun boleh bilang ini kegiatan ra jelas, tapi untuk orang yang senang keliling motoran random sepertiku, ini sudah sangat berkesan. Apalagi sambil kena hujan tipis-tipis. Hahaha luv u Togok💛

Kami ngobrol cukup panjang di warung kopi. Hmm…lebih tepat disebut cafe, sih. Aku lupa apa namanya tapi Togok bilang itu tempat hits anak-anak muda Surabaya. Mendengarkan ia cerita soal pekerjaan dan pertemanannya selama merantau di sini tidak terlalu membuatku takjub. Sudah ketebak olehku. Ia bekerja dengan ulet dan aktif komunitas sana-sini, khususnya yang berbau keringat (alias olahraga😋). Tentu begitu. Aku tau ia tipikal yang tahan banting dan jenis manusia  menyenangkan. Positif vibes kalau kata anak sekarang. Aku percaya ia adalah tipe makhluk hidup yang dilempar di manapun akan tumbuh dan hidup dengan sangat baik—seperti bibit bayam.

Yang berbeda, ia mulai banyak bercerita soal pencarian pasangan. Tema yang dulu jarang kami obrolkan karena mengira masa muda akan panjang dan masih akan ada banyak kolam. Wkwk

Tentu kubagi juga nasib percintaanku yang sama getirnya. Permasalahan kami hampir sama; soal pilih-pilih pasangan. Togok bingung karena merasa nggak punya pilihan, aku bingung kerena ra tau kepilih😭😭😭

Kesimpulan kami untuk bekal kedepan; ‘laki-laki seusia kita saat ini, kebanyakan sudah beristri, sisanya nggak doyan perempuan. Dari opsi yang sedikit itu, kalau nemu yang sekiranya klik, kita gas aja duluan. No gengsi-gengsi club! Semakin cepat ditolak bisa makin cepat cari target lain!’ Hahaha

Makasih Togok buat waktunya. Meminjam lirik Silampukau yang lain; bahwa mau di Jogja, Surabaya, Washington atau Paris yang romantis sekalipun, dunia selalu punya celah yang sama soal mara bahaya dan duka nestapa. Tapi aku harap di manapun, kamu selalu dikelilingi keberuntungan, sehat, dan punya kesempatan buat banyak bersenang-senang. Sampai ketemu lagi di waktu lain, yaa✨👋🏻




*PS: judul postingan ini aku ambil dari sebuah lagu milik kelompok musik super magis asal Surabaya; Silampukau.

Popular posts from this blog

Selamat Buat Pernikahanmu, Ndul!