Posts

Dibilang very nice sama mbak bosor. Diucapin selamat bulan lahir sama pak kaji, diingetin isi baterai dan hati-hati sama Barci. Motorku diisekke angin, dicek remnya sama Nopi. Dibaleni dari Babarsari ke UPN karna semelang aku ra isa nyebrang. Difotoin candid banyaaakkk sekali sama mbamel karna katanya, kasian aku nggak punya foto. Dibilangin masadi buat bandel-bandelin perasaan biar bertahan. Oh, hari-hari yang manis, dan hangat… Rasa-rasanya, kerap kali aku bilang nggak punya temen tiap bergurau. Padahal kalau menengok ke belakang, momen demi momen, kayaknya aku ni hidup dari teman-temanku. Jahat sekali kalau aku selalu bilang begitu, saat satu-satunya yang bisa aku kasih kembali ialah pengakuan bahwa aku hidup dari mereka. Huhu, sayang banget sama teman-temanku. Semoga mereka semua disayang tuhan dan dikasih banyak yang baik-baik 🥹🍀

Hemingway si Paling Sial

Setiap mulai ada perasaan kamu dijahati semesta sebab ia menjadikanmu manusia paling sial, ingatlah bahwa barangkali kamu hanya di urutan ke dua. Kamu bukan yang paling sial sedunia. Sebab manusia ultra sial macam apa, selain Hemingway, yang bisa-bisanya kejatahan mengalami dua kali kecelakaan pesawat dalam sekali hidup? Salah satu dari kecelakaan itu bahkan tidak hanya melukai organ tubuhnya, tetapi juga membuat Hemingway tak lagi punya belahan jiwa. Kupikir, setidaknya tumbuh dewasa dengan orang tua yang begitu jauh dari konsep parenting kekinian telah melatihnya jadi mahir menghadapi getir. Rupanya, sesering apapun menghadapinya, tiap luka punya sakit yang berbeda. Pada akhirnya, semesta barangkali iba. Ia berhasil menyudahi segala kesialan; dengan menembak kepalanya sendiri.

Dari Aan Mansyur

Nemu tulisan Aan Mansyur, kurang lebih begini; Jika di suatu persimpangan, entah di mana, kau bertemu masa kecilmu sedang duduk bersedih, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Dan, berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih—mengetahui kau masa depannya? Aku lupa judul bukunya, yang jelas, Aan Mansyur betul-betul telek kuda.

Malam Jatuh di Surabaya

Buatku, rasanya selalu gloomy tiap datang ke kota lain. Melihat orang-orang berjalan, melihat rumah-rumah, pohon-pohon, apalagi mendengar adzan dikumandangkan, menyadari semua hal sedang dan akan terus bergerak, jauh dari tempat asalmu… apa ya? Aku sungguh nggak ngerti gimana cara menjelaskan perasaan ini dengan tepat. Surabaya layaknya kota yang menawarkan banyak hal. Itu yang ada di kepalaku saat melihat parade hutan beton sepanjang perjalanan dari stasiun. Jalanan lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan berbaris, dan hunian vertikal; lanskap yang cukup memukau mataku sebab di Jogja, bangunan paling jangkung pun tingginya tak mencapai 100 meter—dengan titik lampu merah sebanyak quotes JokPin soal rindu dan angkringan yang beredar di media sosial. Hmm…seberapa leluasa ekonomi menggeliat di sini? Sebenarnya aku pikir di manapun, kelas pekerja akan punya tekanan dan bebannya sendiri dalam bertahan. Tetapi Surabaya semacam punya wajah lain. Ia punya daya hidup, tida...

Selamat Buat Pernikahanmu, Ndul!

Melihat kawan dekatmu menikah rupanya membawa perasaan yang cukup kompleks. Pernikahan Gandul adalah momen pertama yang membuatku sadar akan perasaan itu. Gembira, sedih, dan haru. Sebenarnya, tentu ‘sedih’ adalah frasa yang tidak tepat dirasakan ketika mendapati kabar baik. Barangkali itu adalah wujud lain dari kecemasanku akan kehilangan. Tapi lebih dari itu, aku sungguh turut gembira dan terharu. Melihat bagaimana ia patah dan sembuh secara produktif (alias bola-bali😭) sampai akhirnya di titik sekarang, rasanya begitu lega. Di kepalaku, ia kawan paling expert soal asmara. Pengalamannya luar biasa di bidang itu—toh tidak harus selalu mujur untuk dibilang expert , kekacauanmu pun dihitung pengalaman😋 Meski di depannya aku sering bilang kelakuannya bodoh, ada bagian lain dalam diriku yang memberinya tepuk tangan untuk semua keberanian dan effort nya. Aku jadi punya prinsip, soal cinta, kita harus all in !! Kalaupun apes, setidaknya kita bisa menangis dengan perasaan ‘telah memberi s...
  Aku tidak sungguhan ingat apa yang kamu bisikkan waktu itu. Tapi setelahnya, aku berjalan begitu lamban dari malam ke malam, sebab rasanya kesedihan begitu lalu lalang.

Dari Gus Baha (2)

-Belajar merasakan kalimat kalimat tuhan yang tidak difirmankan. Yang bisa dipahami dengan akal sehat, kepekaan, dan kelembutan hati. Tuhan kan nggak mungkin cuma bilang ke Musa ‘ pukulkan tongkatmu ke laut! ” Pasti ada bagian tuhan bilang ke laut ‘ nanti kalo kena tongkat musa kamu minggir ya!” - Nabi nggak pernah menghukumi hal hal yang sifatnya sosial. Karena sosial itu dinamis, nabi ingin umatnya memakai logika. - Muslim itu kalau merayakan sesuatu, orientasinya sebagai hadiah atas tauhidnya, biar dia inget bahwa islam nggak kalah menyenangkan. Biar inget bahwa ini semua minallah dan akan kembali ilallah.

Tubuh dan Memorinya

  Ajaib sekali bagaimana  tubuh dapat mengingat sesuatu lebih baik dari yang dapat dilakukan otak kita. Otakku bisa memberiku ingatan yang keliru, sepotong-sepotong, bias, atau sederhana; memang denial saja. Tapi tubuhku tidak. Ia semesta kecil yang selalu memberi tanda, namun aku sering luput mendengarkannya.

Dari Sabrang (2)

-Harus menjadi khilafah untuk diri sendiri, tanpa dikontrol orang lain, tanpa tekanan kolektif dari luar. -Mengenali apa yang kamu sukai, apa yang kamu inginkan, bagaimana kamu menjalaninya, bagaimana kamu akan membawa keluargamu. -Manusia terdiri dari campuran serbuk dalam dirinya. Ada serbuk setan, nafsu, tuhan, malaikat, orang lain, dll. Tiap kamu mendengar sesuatu dalam kepalamu berkecamuk, kenali suara dari serbuk yang manakah itu? Apakah itu nafsumu? Keluhan batinmu sendiri? Apakah itu cita-cita murnimu? Apakah itu tuntutan orang di sekitarmu?

Rokok biar apa?

Seorang kawan nanya buat pemula enaknya rokok apa? Aduh, fren, kalau kamu nggak ngerokok, sudah betul, ngga usah nyobain. Atau, kalau kamu keukeuh dan merasa kamu bakal bisa mengontrol diri, kamu harus paham kata ‘kecanduan’. Dia mengikat, nggak sama kayak kebiasaanmu makan gorengan atau jajan boba. Aku berulang kali nanya ke diri sendiri kenapa aku merokok dan nggak pernah nemu alesannya, satu-satunya jawaban paling kuat, ya memang cuma karena badanku terlanjur butuh nikotinnya buat rekreasi. Aku terima itu, tapi juga sadar betul alasan itu nggak akan sebanding sama resiko yang bisa jadi harus aku hadapi nanti-nanti.