Malam Jatuh di Surabaya
Buatku, rasanya selalu gloomy tiap datang ke kota lain. Melihat orang-orang berjalan, melihat rumah-rumah, pohon-pohon, apalagi mendengar adzan dikumandangkan, menyadari semua hal sedang dan akan terus bergerak, jauh dari tempat asalmu… apa ya? Aku sungguh nggak ngerti gimana cara menjelaskan perasaan ini dengan tepat. Surabaya layaknya kota yang menawarkan banyak hal. Itu yang ada di kepalaku saat melihat parade hutan beton sepanjang perjalanan dari stasiun. Jalanan lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan berbaris, dan hunian vertikal; lanskap yang cukup memukau mataku sebab di Jogja, bangunan paling jangkung pun tingginya tak mencapai 100 meter—dengan titik lampu merah sebanyak quotes JokPin soal rindu dan angkringan yang beredar di media sosial. Hmm…seberapa leluasa ekonomi menggeliat di sini? Sebenarnya aku pikir di manapun, kelas pekerja akan punya tekanan dan bebannya sendiri dalam bertahan. Tetapi Surabaya semacam punya wajah lain. Ia punya daya hidup, tida...