Dibilang very nice sama mbak bosor. Diucapin selamat bulan lahir sama pak kaji, diingetin isi baterai dan hati-hati sama Barci. Motorku diisekke angin, dicek remnya sama Nopi. Dibaleni dari Babarsari ke UPN karna semelang aku ra isa nyebrang. Difotoin candid banyaaakkk sekali sama mbamel karna katanya, kasian aku nggak punya foto. Dibilangin masadi buat bandel-bandelin perasaan biar bertahan. Oh, hari-hari yang manis, dan hangat… Rasa-rasanya, kerap kali aku bilang nggak punya temen tiap bergurau. Padahal kalau menengok ke belakang, momen demi momen, kayaknya aku ni hidup dari teman-temanku. Jahat sekali kalau aku selalu bilang begitu, saat satu-satunya yang bisa aku kasih kembali ialah pengakuan bahwa aku hidup dari mereka. Huhu, sayang banget sama teman-temanku. Semoga mereka semua disayang tuhan dan dikasih banyak yang baik-baik 🥹🍀
Posts
Showing posts from 2025
Hemingway si Paling Sial
- Get link
- X
- Other Apps
Setiap mulai ada perasaan kamu dijahati semesta sebab ia menjadikanmu manusia paling sial, ingatlah bahwa barangkali kamu hanya di urutan ke dua. Kamu bukan yang paling sial sedunia. Sebab manusia ultra sial macam apa, selain Hemingway, yang bisa-bisanya kejatahan mengalami dua kali kecelakaan pesawat dalam sekali hidup? Salah satu dari kecelakaan itu bahkan tidak hanya melukai organ tubuhnya, tetapi juga membuat Hemingway tak lagi punya belahan jiwa. Kupikir, setidaknya tumbuh dewasa dengan orang tua yang begitu jauh dari konsep parenting kekinian telah melatihnya jadi mahir menghadapi getir. Rupanya, sesering apapun menghadapinya, tiap luka punya sakit yang berbeda. Pada akhirnya, semesta barangkali iba. Ia berhasil menyudahi segala kesialan; dengan menembak kepalanya sendiri.
Dari Aan Mansyur
- Get link
- X
- Other Apps
Nemu tulisan Aan Mansyur, kurang lebih begini; Jika di suatu persimpangan, entah di mana, kau bertemu masa kecilmu sedang duduk bersedih, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Dan, berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih—mengetahui kau masa depannya? Aku lupa judul bukunya, yang jelas, Aan Mansyur betul-betul telek kuda.
Malam Jatuh di Surabaya
- Get link
- X
- Other Apps
Buatku, rasanya selalu gloomy tiap datang ke kota lain. Melihat orang-orang berjalan, melihat rumah-rumah, pohon-pohon, apalagi mendengar adzan dikumandangkan, menyadari semua hal sedang dan akan terus bergerak, jauh dari tempat asalmu… apa ya? Aku sungguh nggak ngerti gimana cara menjelaskan perasaan ini dengan tepat. Surabaya layaknya kota yang menawarkan banyak hal. Itu yang ada di kepalaku saat melihat parade hutan beton sepanjang perjalanan dari stasiun. Jalanan lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan berbaris, dan hunian vertikal; lanskap yang cukup memukau mataku sebab di Jogja, bangunan paling jangkung pun tingginya tak mencapai 100 meter—dengan titik lampu merah sebanyak quotes JokPin soal rindu dan angkringan yang beredar di media sosial. Hmm…seberapa leluasa ekonomi menggeliat di sini? Sebenarnya aku pikir di manapun, kelas pekerja akan punya tekanan dan bebannya sendiri dalam bertahan. Tetapi Surabaya semacam punya wajah lain. Ia punya daya hidup, tida...